“Saya ingin berbagi keyakinan bahwa jika Anda sedang berjuang, ada orang yang siap membantu,
dan Anda tidak sendirian.” Kim Nam Gil.
Dalam laman situs NGO Gilstory, Kim Nam Gil menulis bahwa pada bulan Januari 2010, ia melihat secara langsung keputusasaan orang-orang setelah gempa bumi di Indonesia yang dipaksa untuk hidup dengan ‘kemiskinan’ yang tak terelakkan selama sisa hidup mereka, melihat mereka menerima nasib kemiskinan tanpa pertanyaan apa pun telah membuka matanya akan gagasan berbagi lintas batas wilayah, negara dan ras.
Gempa bumi Sumatra Barat 2009 atau disebut Gampo bumi 30 September terjadi dengan kekuatan 7,6 Skala Magnitudo di lepas pantai Sumatera Barat, sekitar 50 km barat laut Kota Padang. Menurut data Satkorlak PB, sebanyak 1.117 orang tewas akibat gempa ini yang tersebar di 3 kota dan 4 kabupaten di Sumatera Barat, korban luka berat mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang. Sedangkan 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, dan 78.604 rumah rusak ringan.


Kim Nam Gil datang selama 4 malam dan 5 hari dari tanggal 6 hingga 10 Januari 2010 bersama organisasi dukungan anak internasional Plan International Korea. Ia menyampaikan bantuan kepada warga yang kehilangan rumah dan bahkan harapan untuk membangun kembali, dan bertemu dengan anak-anak yang belajar di sekolah sementara. Ketika datang ke lokasi gempa, Kim Nam Gil bersama dengan para relawan mencoba melakukan apapun yang dapat membantu korban gempa. Berita kunjungan aktor Kim Nam Gil ini pun dipublikasikan dalam buletin Plan International Indonesia.

Beberapa hari sebelumnya, pada tanggal 29 desember 2009, Kim Nam Gil memenangkan Penghargaan Male Excellence Award dan Best Couple Award bersama Lee Yeo Won dan Male Excellence Award untuk drama ‘Queen Seondeok’ di MBC Drama Awards 2009. Pada tanggal 6 Januari 2010, Kim Nam Gil mengunjungi Kota Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia, yang mengalami dampak cukup besar akibat dua gempa bumi berturut-turut pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 2010. Gempa bumi tersebut mengakibatkan ribuan korban jiwa dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Kim Nam Gil mengunjungi sekolah dasar sementara yang dikelola oleh Plan International setelah mendengar bahwa 204 sekolah di Sumatera Barat runtuh atau ambruk, yang menyebabkan sekitar 90.000 anak tidak memiliki akses ke pendidikan formal.
Meski Kim Nam Gil dan anak-anak korban gempa tidak dapat berkomunikasi secara verbal, Kim Nam Gil menggambar untuk menghibur anak-anak, tetapi ia mengatakan bahwa ia tidak dapat memberikan kata-kata penghiburan kepada anak-anak yang langsung menangis hanya dengan mendengar kata gempa bumi.
“Ketakutan akan gempa bumi adalah bencana yang bahkan sulit ditanggung oleh orang dewasa, padahal mereka seharusnya banyak berlari dan bermain. Jadi, saya sangat sedih melihat anak-anak kecil ini mengalami hal-hal yang seharusnya tidak perlu mereka alami,” ujar Kim Nam Gil, seraya berharap agar anak-anak dapat segera pulih dari guncangan gempa bumi tersebut.
Kim Nam Gil mengunjungi rumah Mira, di mana adik-adik perempuannya yang berusia 10, 8, dan 6 tahun tinggal bersama kakak perempuan mereka yang menderita depresi berat akibat trauma gempa. Dua pertiga bagian rumah runtuh, tetapi sang ibu, yang masih dalam kondisi trauma akibat gempa bumi dan masih merawat putrinya yang masih kecil, tidak dapat membangun kembali rumah itu sendiri, sehingga anak-anak hampir sepenuhnya terabaikan. Kim Nam Gil memutuskan untuk menyingsingkan lengan bajunya dan membangun rumah untuk keluarga tersebut agar mereka dapat terlindung dari hujan selama musim hujan yang berlangsung dari bulan November hingga Maret.
Bersama dengan Plan International Korea, mereka membangun tembok di atas tembok yang runtuh, meskipun Kim Nam Gil harus menggunakan Palu untuk menancapkan paku karena kurangnya peralatan, ia berusaha sekuat tenaga bahkan dengan setiap paku yang ada. Ketika atap akhirnya dipasang di atas lubang di langit-langit dan keajaiban terjadi di rumah Mira, ia merasa bangga karena tindakan kebaikannya yang kecil telah memberikan mereka harapan lagi.
“Saat tiba di sini, saya menyadari bahwa tidak ada yang dapat saya lakukan sendiri. Saya ingin berbagi keyakinan bahwa tidak hanya saya, tetapi semua orang dapat saling membantu, bahkan satu orang pun dapat membantu, dan Anda tidak sendirian,” kata Kim Nam Gil.
Salah seorang relawan yang datang bersama Kim Nam Gil berkata, “Anda telah membangun rumah. Anak-anak yang kehilangan rumah mereka selama gempa bumi sekarang memiliki tempat yang layak untuk tidur malam ini. Orang-orang di sini mengira tidak ada yang peduli dan tidak ada yang akan datang untuk mereka, tetapi Anda datang, orang asing dan aktor terkenal. Anda datang dan bermain dengan anak-anak dan berbagi rasa sakit mereka. Itu benar-benar penghiburan yang luar biasa bagi mereka. Saya ingin menunjukkan kepada dunia bagaimana Anda benar-benar merasakan rasa sakit mereka, berbagi hati Anda, dan bekerja keras membangun rumah mereka. Cinta dan harapan yang Anda berikan kepada orang-orang yang terlupakan ini, dan saya ingin mengajak orang lain untuk melakukannya bersama-sama. Hal ini mungkin akan mendorong lebih banyak orang untuk bergabung dan membantu orang-orang yang putus asa ini.” Relawan itu benar. Lalu terlintas dalam pikirannya bahwa satu rumah yang dibangun hari ini bisa berkembang menjadi sepuluh kemudian menjadi ratusan di masa mendatang. Sejak saat itu, Kim Nam Gil selalu memikirkan dampak yang bisa ia buat.
Pada hari terakhir, Kim Nam Gil memikul perlengkapan bantuan yang disiapkan oleh Plan International Korea di pundaknya dan mengunjungi desa terpencil yang belum tersentuh bantuan. Desa yang terdiri dari 15 keluarga ini, rumahnya hancur akibat gempa bumi. Penduduk desa yang berhasil menyelamatkan diri dari reruntuhan rumah tidak memiliki apa-apa untuk ditinggali, apalagi rumah mereka.

Di sebuah desa di mana pasokan air terputus akibat gempa bumi, memiliki akses ke air minum dan peralatan dapur untuk menyiapkan makanan adalah masalah hidup dan mati, dan para ibu yang menerima bantuan berseri-seri karena mereka dapat memasak makanan yang layak untuk anak-anak mereka. Kim Nam Gil bekerja tanpa lelah untuk mengirimkan pasokan bantuan kepada mereka yang dapat bertahan.
Kim Nam Gil yang secara pribadi menyaksikan dan mengalami sendiri 100 hari pascagempa bumi Sumatra yang dahsyat, mengatakan, “Di Indonesia, yang hancur akibat gempa bumi adalah anak-anak dan wanita yang rentan menjadi pihak yang paling menderita.” “Ketika saya menggendong seorang bayi yang lahir di hari yang sama dengan gempa bumi, saya menyadari bahwa mereka juga memiliki mimpi dan harapan untuk masa depan. Jika kita semua bersatu untuk mengirimkan kepedulian dan bantuan kita ke Haiti, mereka juga akan memiliki harapan seperti ini,” ujar Kim Nam Gil, yang saat itu berencana untuk melanjutkan upaya bantuan di Indonesia dan Haiti dengan Plan International Korea.


Pada tanggal 12 Januari 2010, keesokan harinya ketika ia meninggalkan Indonesia, gempa bumi lain melanda Haiti. Saat itu, ia sedang berada di Amerika Serikat, dan ia merasa, ia harus pergi ke Haiti, karena ia telah melihat kehidupan yang menyedihkan setelah gempa bumi di Sumatra Barat, Indonesia. Ia ingin membantu dengan cara tertentu, yang kemudian kegiatan sukarelawannya ketika berada di lokasi gempa di Indonesia dan Haiti menjadi tayangan khusus berdurasi 1 jam yang berjudul “The World and I” yang tayang di MBC pada tanggal 29 Januari 2011, 100 hari setelah gempa terjadi. Video tersebut dinarasikan oleh Kim Nam Gil sendiri. Ia juga menyampaikan rasa penderitaan yang dialami oleh para korban gempa bumi.
Kim Nam Gil di laman NGO Gilstory juga menulis, “Ada pepatah yang mengatakan bahwa tubuhmu mengikuti kemana hatimu pergi. Sebagai bagian dari tugas wajib militer saya, saya mendapat kesempatan untuk menyadari pengaruh seorang aktor. Sebelum mulai wajib militer, saya mengikuti program pertukaran Budaya Korea-Jepang yang saya hadiri sebelum mendaftar, dana amal yang dikumpulkan oleh para penggemar Jepang dikirim ke Mongolia untuk membangun sebuah sekolah bagi anak-anak di sebuah desa yang miskin. Saya pikir itu luar biasa: “Orang-orang di Jepang yang mencintai aktor Korea menyatukan hati dan uang mereka untuk membantu anak-anak di Mongolia.” Saya menyadari bahwa tidak ada batasan, tidak ada ras, hanya ‘cinta’ di sini, dan ini adalah tanggung jawab minimum saya untuk ‘pengaruh’ yang telah diberikan kepada saya. Saya teringat mimpi masa kecil saya bahwa setidaknya setiap anak harus hidup tanpa mengenal kata ‘kemiskinan’.”
“Banyak orang yang bertanya-tanya apa itu keadilan. Menurut saya, itu adalah cinta. Dua orang berbagi cinta itu bagus, tiga orang lebih baik, lima orang bahkan lebih baik lagi. Jadi, inilah dia. Saya tidak ingin mementingkan diri sendiri, saya ingin menjaga orang-orang di sekitar saya. Saya ingin menciptakan ‘jalan’ di mana orang-orang berbicara tentang dunia yang layak untuk ditinggali, jadi saya ingin menciptakan ‘kisah perjalanan’ di mana kebahagiaan yang saya nikmati penuh dan melimpah dan saya ingin membaginya dengan siapa pun. Kisah Kim Nam Gil, kisah tentang jalan yang ingin ia tempuh, kisah orang-orang yang berjalan bersamanya, dan tempat bertemunya semua jalan dan kisah ini adalah ‘Gilstory’.”
Kisah Kim Nam Gil ini juga menjadi inspirasi bagi banyak orang termasuk penggemarnya. Keinginannya yang tulus membantu orang lain serta kebaikan hatinya untuk membuat perubahan positif di masyarakat. NGO Gilstory telah banyak menciptakan dampak sosial dengan berbagi nilai bersama. Mereka juga secara berkelanjutan membuat kampanye yang berkontribusi besar pada masyarakat seperti kampanya seni publik, kampanye dukungan kreator, kampanye bantuan darurat, kampanye untuk meningkatkan kesadaran hak-hak hewan yang disiksa dan ditelantarkan dan juga kampanye keselamatan perumahan untuk Lansia yang ditemukan ketika syuting program dokumenter MBC ‘Leave Something Behind’ di tahun 2023.
NGO Gilstory juga membuka kesempatan berdonasi, bagi siapapun yang ingin berjalan bersama dengan NGO Gilstory agar nilai berbagi dapat menyebar luas. Bagi Warga Negara Korea Selatan sendiri ada program sponsorship rutin dengan menjadi sponsorship reguler. Sedangkan dari luar negeri, khususnya Indonesia, kita juga bisa memberikan donasi satu kali melalui PayPal dengan cara sebagai berikut :
– Di Indonesia, rekening PayPal dapat dihubungkan ke rekening bank lokal
– Klik Donasi di laman NGO Gilstory yang bertanda



